Halaman Utama   | Tentang PKBL   | Program Kemitraan   | Demografi Mitra   |  Bina Lingkungan   | Pojok Media   | Bantuan  
 
 
www.thetrekkers.com antara toko offline dan online berkat Dukungan PKBL Jamsostek
Sucses Story Usaha CATUR BATIK WOOD
Mitra Binaan PT Jasa Raharja (Persero) - Kreasi Kepompong Ulat Sutera
Cocooncraft - Kreasi Kepompong Ulat Sutera
Pentingnya Ketahanan Pangan
Arsip
 
Mitra Binaan PT. Angkasa Pura II (Persero) Gorengan Rengginang Cetak Omset 20 Juta
Asep Karmana Gorengan Rengginang Cetak Omset 20 Juta Mengandalkan rengginang, makanan tradisional Garut, sebagai produk utama, bisnis Asep Karmana bersama istrinya, mampu meraup omset gede untuk ukuran UKM setempat.    Bila anda berkunjung ke Garut Jawa Barat, cobalah untuk membeli rengginang sebagai oleh-oleh untuk rumah. Makanan ala kampung sejenis kerupuk ini ternyata masih tetap bertahan di tengah modernisasi kuliner yang marak di kota besar. Asep Karmana adalah salah satu pengusaha yang sukses dengan makanan tradisional ini. Putra asli Garut ini, mampu menghasilkan omset Rp. 20 juta per bulan. Pabriknya yang terletak di Kampung Cihuni, Pangatikan, Kabupaten Garut, menjadi tumpukan nafkah 20 karyawan.
    Ide membuat rengginang, hinggap di kepala Asep pada 1989. Bersama istrinya, ia melakukan serangkaian percobaan dengan meracik bumbu tertentu, agar menghasilkan rengginang yang rasanya berbeda dengan yang sudah banyak beredar di Garut dan daerah lainnya. Setelah melewati uji coba oleh keluarga dan tetangganya dengan hasil meyakinkan, Asep pun optimis rengginangnya bisa laris di pasar.
    Tapi, tekad Asep untuk memulai usaha, masih belum bulat. Waktu itu, ia masih ingin menjadi pegawai negeri. Untunglah sang ibu dan istrinya, bisa mengawali dan mengembangkan usaha pembuatan rengginang ini. Maka, Asep lulus seleksi dan menjadi pegawai berstatus honorer, dan baru diangkat statusnya pada 2006.
    Menjadi pegawai negeri sudah, menekuni usaha sedang dijalani. Tinggal bagaimana Asep mengembangkan usahanya untuk bisa sampai besar. Asep sadar, tidak mudah menjual makanan tradisional seperti rengginang, di tengah-tengah kepungan camilan modern buatan pabrik. Namun, ia percaya, makanan tradisional mempunyai keunikan tersendiri. Terlebih jika diracik dengan cita rasa yang ramah di lidah. Celah pasar, masih terbuka. “lagi pula, makanan tradisional banyak dibeli konsumen untuk oleh-oleh,” ujarnya.
    Keyakinan itu tidak keliru. Seiring dengan berjalannya waktu, rengginang buatan Asep mulai kebanjiran pesanan. Mulanya ia agak kerepotan, karena modal yang dimilikinya tidak cukup banyak. Pinjam uang adalah cara cepat yang harus dijalani untuk menutupi modal. “Saya beruntung, karena diterima sebagai mitrabinaan PT. Angkasa Pura II, dan mendapat pinjaman Rp. 15 juta,” uangkap Asep, sumingrah.
    Pinjaman yang diterima pada 2001 itu, benar-benar memacu bisnis rengginang Asep, karena mampu memenuhi sejumlah pesanan. “Seandainya pesanan itu gagal saya penuhi, mungkin banyak konsumen yang kecewa. Akibatnya bisa fatal dalam pengembangan usaha ke depan,” ujarnya.
    Setelah pinjaman pertama lunas, Asep kembali mendapat pinjman kedua sebesar Rp. 30 juta. Pinjaman sebesar itu, tentu saja sesuai dengan kebutuhan usaha rengginang yang terus berkembang. “Setelah pinjaman ini luas, saya berencana mengajukan lagi ke PT. Angkasa Pura II, sampai Rp. 75 juta,” ucapnya.
    Saat ini, usaha milik Asep sudah mampu menyerap 20 karyawan. “Saya yakin, usaha ini masih bisa dikembangkan, dengan target omset rata-rata Rp. 20 juta per bulan,” tandasnya. Jika pinjaman ketiga disetujui, akan digunakan untuk berinvestasi membeli tanah untuk membangun pabrik lagi. Asep juga yakin dapat melunasi pinjaman tanpa harus menunggu waktu yang ditentukan, karena usaha ini menjanjikan keuntungan 40 persen dari biaya produksi.
    Pabrik pertamanya sudah berjalan dan memproduksi setiap hari sebanyak 2 kuintal rengginang. Untuk keragaman produk, Asep juga membuat dapos yang terbuat dari bahan beras dan jagung. “Jadi kalau hanya mengandalkan satu pabrik, perkembangan usaha saya akan mentok. Pabrik baru merupakan kebutuhan mendesak,” katanya.
    Di samping untuk menggenjot kapasitas produksi, kebutuhan pabrik baru juga didorong oleh kenyataan, bahwa proses pembuatan rengginang sangat tergantung pada terik matahari untuk menjemurnya. Pernah ia menyiasati dengan menggunakan oven, tetapi hasilnya tidak bagus.
    Sedangkan permintaan di saat musim hujan sangat besar. Karena selain penghujung dari luar kota yang membeli, para petani setempat juga menyenangi rengginang ini. Mereka menyantapnya bersama dengan nasi ketika bekerja di ladang dan sawah.
    Dengan perkembangannya yang pesat, usaha rengginang Asep tentu saja menjadi perhatian pesaing. Bahkan, ada yang nekad memalsukan produknya, dan dijual dengan harga Rp. 2.500 per bungkus, jauh lebih murah ketimbang rengginang asli buatan Asep yang dipatok Rp. 4.500 per bungkus. Tapi, langkah curang ini terbukti tak mampu menggoyangkan usaha rengginang Asep.
    “Saya berterima kasih pada PT. Angkasa Pura II, sehingga bisa berkembang seperti sekarang,” aku Asep, sambil menjelaskan, bahwa pembinaan yang dilakukan BUMN tersebut bukan hanya sebatas pemberian pinjman lunak, tetapi juga pelatihan manajemen. “Kendati usaha saya masih skala UKM, tetap saja butuh manajemen yang baik untuk bisa maju,” imbuhnya.



Pada 22-06-2009| Oleh : | Beri Tanggapan?
» Kembali «

Tidak ada Tanggapan