Halaman Utama   | Tentang PKBL   | Program Kemitraan   | Demografi Mitra   |  Bina Lingkungan   | Pojok Media   | Bantuan  
 
 
www.thetrekkers.com antara toko offline dan online berkat Dukungan PKBL Jamsostek
Sucses Story Usaha CATUR BATIK WOOD
Mitra Binaan PT Jasa Raharja (Persero) - Kreasi Kepompong Ulat Sutera
Cocooncraft - Kreasi Kepompong Ulat Sutera
Pentingnya Ketahanan Pangan
Arsip
 
Mitra Binaan PT. Angkasa Pura II (Persero) Pundi-Pundi Uang dari Kulit Kerang
Ade Padilah Pundi-Pundi Uang dari Kulit Kerang Kreativitas di bidang seni yang ditekuni di masa kuliah, akhirnya menjadi sumber rejeki yang cukup melimpah. Namun, kesuksesannya bukan hanya bertumpu pada kreativitas, tetapi juga kegigihan dalam menghadapi masalah, dan kepiawaian menembus pasar hingga ke mancanegara.

             BAYANGKAN, betapa luasnya bentangan pantai di Indonesia. Di sanalah terhampar beragam kulit binatang seperti kerang, siput, keong, dan banyak lagi. Oleh Ade Padilah, benda-benda itu disulap menjadi handycraft yang menarik. Selain menyerap tenaga kerja, keuntungan yang diraih pun lumayan besar.

            Kreativitas di bidang seni, bagi Ade, memang bukan hal yang asing. Semasa kuliah di Univ. Padjajaran Bandung, bersama dua rekannya, Ade menjual lukisan dan kerajinan Bali, dengan label Ara Craft. Lulus kuliah, satu persatu rekannya mundur meningggalkan bidang seni. Ade jalan terus.

            Bahkan, ketika Ade diterima bekerja di sebuah perusahaan elektronik, bisnisnya tak terganggu. Justru di tempat kerjanya itu, ia mencium peluang baru,. Ia kerap main ke bagian packaging. Disana, karton bekas kemasan elektronik yang masih kuat terbuang begitu saja. Karton-karton itu lalu dibuatnya menjadi kotak kemasan yang menarik. Tak sedikit yang melirik buatannya, saat dipamerkan bersama lukisan.

            Yakin kalau ini pun peluang yang menjanjikan, Ade nekad berhenti bekerja agar makin total dalam usaha. Namun, bisnis yang dirintisnya tidak berjalan mulus. Saat kerusuhan 1998, ade turut menjadi korban. Sejumlah lukisannya di sebuah mal, dijarah orang. Ade juga pernah ditipu pembelinya, yang memborong produknya tapi membayar dengan giro mundur yang ternyata kosong. Tak mau merugi terus-terusan, bisnis lukisannya total dihentikan.

            Sarjana Hubungan Internasional ini lantas memfokuskan pada produk kotak kemasan, yang masih jarang dilirik orang. Kotak seperti buatan Ade, biasanya dipakai oleh bank-bank, perusahaan penerbangan, usaha makanan seperti coklat, wedding organize, dan sebagainya. Mereka menggunakannya sebagai kotak kado yang cantik, kemasan promosi, souvenir maupun oleh-oleh. “Kalau kotaknya saja sudah bagus, pasti citra perusahaan juga akan naik,” kata pengusaha yang pernah menjual kotak dengan  harga termahal Rp 100 ribu per pieces  ini.

            Ade rupanya tak cepat puas. Volume pesanan kotak yang menurun di luar hari raya dan hari besar, membuatnya berpikir untuk menyisipkan produk lain. Lalu dibuatlah kerajinan dari bunga kering. Ia pun mempelajari teknik mewarni dan mengawetkan bunga, serta menyajikan dalam rangkaian yang menarik. Ternyata tren bunga kering cepat menurun. Peminatnya tak seramai saat pertama dibuka. Ia lantas beralih membuat hiasan dari kulit kerang.

            Ceritanya, suatu hari ia berkunjung ke pasar ikan. “Wah, ternyata kulit kerang kita sangat banyak, baik ragam maupun jumlahnya,” Ade tercengang. Kekayaan alam sebanyak itu, sepertinya belum dimanfaatkan sepenuhnya. Tanpa menunggu waktu berbagai media, baik majalah maupun barang kerajinan di sekitarnya.

            Dari kulit kerang beragam binatang laut itu, Ade membuat hiasan berpigura kayu. Sebagai bahan tambahan, digunakan pula pasir pantai. Pigura dipesan dari daerah asalnya, Sukabumi. Bentuk pigura pun dibuat menarik, dengan kayu pilihan dan warna merah anggur.

            Seiring majunya usaha, ia makin rajin ikut pameran, baik biaya sendiri maupun atas fasilitas lembaga lain. Pameran yang diikuti tak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri. Ajang pameran di Dubai, Singapura dan Hongkong pernah diikutinya. Tak seperti pengusaha lain yang lebih sering menitip produk pamerannya, Ade lebih suka berangkat sendiri. “Kalau kita bertemu langsung dengan peminat, tentunya bisa menjelaskan spesifik produk. Termasuk menunjukkan berapa besar kemampuan kita untuk berkomitmen dengan pembeli,” jelasnya. Selain pameran, Toserba Sarinah Jakarta juga dimanfaatkan untuk mengekspos produknya.

            Setelah menjadi mitra binaan PT Angkasa Pura II, kesempatan untuk berpromosi semakin banyak. Selain sering disertakan dalam pameran, Ade juga kerap diundang dalam seminar dan pelatihan manajemen. Bahkan, ketika butuh tambahan modal, ia diberi pinjman lunak Rp 20 juta, dan dilanjutkan tahap dua sebesar Rp 70 juta.

            Modal pinjaman tersebut dipakai untuk produksi, melayani pesanan dalam negeri, maupun luar negeri. Beberapa pembeli dari Jerman, Dubai dan Singapura telah lama jadi pelanggan Ade. Jika pesanan stabil, cukup dikerjakan 25-30 karyawan. Produksi rata-rata, dari 44 item kulit kerang, sebanyak 10 ribu per bulan. Tak terhitung lagi jumlah kotak kemesannya. Ade juga memperkerjakan mantan karyawan dan masyarakat di sekitarnya dengan sistem borongan.

            Dalam Cina Souching Fair di Hongkong yang diikutinya belum lama ini, telah banyak pihak yang menjajaki kerja sama. Disitu pula secara langsung Ade bertemu dengan buyer Amerika dan Eropa. Demi melancarkan kontak dengan buyer, pulang dari sana Ade menyiapkan website dan kontak on line.

            Selain website, Ade juga berpikir lebih jauh. “Saya juga harus menyiapkan sampel, mengirimkannya dan bernegosiasi dengan mereka,” tutur pria yang menghadapi kendala bahasa asing ini. Dalam waktu singkat, sejumlah buyer dari Amerika, Polandia, Turki, Taiwan serta Hongkong, beruntun meminang produk Ara Craft. Ini artinya, pundi-pundi omset yang selama ini mengumpulkan Rp. 50 juta hingga Rp 70 juta sebulan bakal bertambah.  



Pada 22-06-2009| Oleh : | Beri Tanggapan?
» Kembali «

Tidak ada Tanggapan