Ade Padilah
Pundi-Pundi Uang dari Kulit Kerang
Kreativitas di bidang seni yang ditekuni di masa kuliah, akhirnya menjadi sumber rejeki yang cukup melimpah. Namun, kesuksesannya bukan hanya bertumpu pada kreativitas, tetapi juga kegigihan dalam menghadapi masalah, dan kepiawaian menembus pasar hingga ke mancanegara.
BAYANGKAN, betapa luasnya
bentangan pantai di Indonesia. Di sanalah terhampar beragam kulit binatang
seperti kerang, siput, keong, dan banyak lagi. Oleh Ade Padilah, benda-benda
itu disulap menjadi handycraft yang
menarik. Selain menyerap tenaga kerja, keuntungan yang diraih pun lumayan
besar.
Kreativitas
di bidang seni, bagi Ade, memang bukan hal yang asing. Semasa kuliah di Univ.
Padjajaran Bandung, bersama dua rekannya, Ade menjual lukisan dan kerajinan
Bali, dengan label Ara Craft. Lulus
kuliah, satu persatu rekannya mundur meningggalkan bidang seni. Ade jalan
terus.
Bahkan,
ketika Ade diterima bekerja di sebuah perusahaan elektronik, bisnisnya tak terganggu.
Justru di tempat kerjanya itu, ia mencium peluang baru,. Ia kerap main ke
bagian packaging. Disana, karton
bekas kemasan elektronik yang masih kuat terbuang begitu saja. Karton-karton
itu lalu dibuatnya menjadi kotak kemasan yang menarik. Tak sedikit yang melirik
buatannya, saat dipamerkan bersama lukisan.
Yakin
kalau ini pun peluang yang menjanjikan, Ade nekad berhenti bekerja agar makin
total dalam usaha. Namun, bisnis yang dirintisnya tidak berjalan mulus. Saat
kerusuhan 1998, ade turut menjadi korban. Sejumlah lukisannya di sebuah mal,
dijarah orang. Ade juga pernah ditipu pembelinya, yang memborong produknya tapi
membayar dengan giro mundur yang ternyata kosong. Tak mau merugi terus-terusan,
bisnis lukisannya total dihentikan.
Sarjana
Hubungan Internasional ini lantas memfokuskan pada produk kotak kemasan, yang
masih jarang dilirik orang. Kotak seperti buatan Ade, biasanya dipakai oleh
bank-bank, perusahaan penerbangan, usaha makanan seperti coklat, wedding organize, dan sebagainya. Mereka
menggunakannya sebagai kotak kado yang cantik, kemasan promosi, souvenir maupun oleh-oleh. “Kalau kotaknya
saja sudah bagus, pasti citra perusahaan juga akan naik,” kata pengusaha yang
pernah menjual kotak dengan harga
termahal Rp 100 ribu per pieces ini.
Ade
rupanya tak cepat puas. Volume pesanan kotak yang menurun di luar hari raya dan
hari besar, membuatnya berpikir untuk menyisipkan produk lain. Lalu dibuatlah
kerajinan dari bunga kering. Ia pun mempelajari teknik mewarni dan mengawetkan
bunga, serta menyajikan dalam rangkaian yang menarik. Ternyata tren bunga
kering cepat menurun. Peminatnya tak seramai saat pertama dibuka. Ia lantas
beralih membuat hiasan dari kulit kerang.
Ceritanya,
suatu hari ia berkunjung ke pasar ikan. “Wah, ternyata kulit kerang kita sangat
banyak, baik ragam maupun jumlahnya,” Ade tercengang. Kekayaan alam sebanyak
itu, sepertinya belum dimanfaatkan sepenuhnya. Tanpa menunggu waktu berbagai
media, baik majalah maupun barang kerajinan di sekitarnya.
Dari
kulit kerang beragam binatang laut itu, Ade membuat hiasan berpigura kayu.
Sebagai bahan tambahan, digunakan pula pasir pantai. Pigura dipesan dari daerah
asalnya, Sukabumi. Bentuk pigura pun dibuat menarik, dengan kayu pilihan dan
warna merah anggur.
Seiring
majunya usaha, ia makin rajin ikut pameran, baik biaya sendiri maupun atas
fasilitas lembaga lain. Pameran yang diikuti tak hanya di dalam negeri, tapi
juga di luar negeri. Ajang pameran di Dubai, Singapura dan Hongkong pernah
diikutinya. Tak seperti pengusaha lain yang lebih sering menitip produk
pamerannya, Ade lebih suka berangkat sendiri. “Kalau kita bertemu langsung
dengan peminat, tentunya bisa menjelaskan spesifik produk. Termasuk menunjukkan
berapa besar kemampuan kita untuk berkomitmen dengan pembeli,” jelasnya. Selain
pameran, Toserba Sarinah Jakarta juga dimanfaatkan untuk mengekspos produknya.
Setelah
menjadi mitra binaan PT Angkasa Pura II, kesempatan untuk berpromosi semakin
banyak. Selain sering disertakan dalam pameran, Ade juga kerap diundang dalam
seminar dan pelatihan manajemen. Bahkan, ketika butuh tambahan modal, ia diberi
pinjman lunak Rp 20 juta, dan dilanjutkan tahap dua sebesar Rp 70 juta.
Modal
pinjaman tersebut dipakai untuk produksi, melayani pesanan dalam negeri, maupun
luar negeri. Beberapa pembeli dari Jerman, Dubai dan Singapura telah lama jadi
pelanggan Ade. Jika pesanan stabil, cukup dikerjakan 25-30 karyawan. Produksi
rata-rata, dari 44 item kulit kerang, sebanyak 10 ribu per bulan. Tak terhitung
lagi jumlah kotak kemesannya. Ade juga memperkerjakan mantan karyawan dan masyarakat
di sekitarnya dengan sistem borongan.
Dalam
Cina Souching Fair di Hongkong yang
diikutinya belum lama ini, telah banyak pihak yang menjajaki kerja sama. Disitu
pula secara langsung Ade bertemu dengan buyer
Amerika dan Eropa. Demi melancarkan kontak dengan buyer, pulang dari sana Ade menyiapkan website dan kontak on line.
Selain website, Ade juga berpikir lebih jauh. “Saya
juga harus menyiapkan sampel, mengirimkannya dan bernegosiasi dengan mereka,”
tutur pria yang menghadapi kendala bahasa asing ini. Dalam waktu singkat,
sejumlah buyer dari Amerika,
Polandia, Turki, Taiwan serta Hongkong, beruntun meminang produk Ara Craft. Ini artinya, pundi-pundi omset
yang selama ini mengumpulkan Rp. 50 juta hingga Rp 70 juta sebulan bakal
bertambah.