(dikutip dari: Harian Kaltim Post, Rabu 31 Desember 2008)
Selalu berinovasi membuat TH Hangin Bang Donggo memetik hasil. Ibu dua anak dan nenek dari dua cucu ini ulet membuat berbagai kerajinan tangan berbahan rotan. Beragam produk dari tangannya serta dari beberapa anak buahnya, dinikmati beberapa warga negara asing.
Kendati belum ekspor, namun hasil kerajinan tangan dari Kerajinan Manik dan Rotan (Matan) yang dipimpinnya dibeli sejumlah warga asing dari berbagai belahan dunia. Tidak sedikit pula warga asing yang memesan kerajinan tangan baik berbahan manik maupun rotan.
Pagi itu, Hangin menyambut hangat kedatangan karyawan PT. Jamsostek (Persero) Cabang Samarinda yang bertandang ke rumahnya di Jl. Argamulya Dalam Gang 7, samarind. Di rumahnya bernomor 30 RT.12 itu terpajang beragam kerajinan tangan produksi Matan yang dipimpinnya. Antara lain berupa sabuk berbahan manik-manik, pakaian daerah, , topi khas dayak, tikar, taplak meja, perisai, dan mandau.
Tak hanya barang-barang hasil produksi yang memang dijual, sofa di ruang tamu pun dihias manik bergambar putri Dayak lengkap dengan telinga panjang yang sengaja dibuat menjuntai. Tirai pintu masuk ruang keluarga di rumah itu juga dibuat dari manik-manik bergambarkan anggrek Hitam, yang dijadikan lambang pemerintahan Kutai Barat.
“Pernah ada permintaan dari Yogyakarta untuk diekspor. Karena yang diminta 30 ribu buah per bulan, Kami tak bisa menyanggupinya. Namanya juga kerajinan tangan, kemampuan produksi paling-paling 500 buah per bulan,” kata Hangrin.
Hangin rajin membuat berbagai produk berbahan rotan sejak dia tinggal di Desa Long Bagun Ilir, Kecamatan Long Bagun, Kutai Barat sekitar tahun 1998 silam. Kemudian ia pindah ke samarinda dan tetap mengembangjan kerjainan tangan yang memerlukan keuletan dan ketekunan itu. Kini, hangin memiliki sekitra 15 ketua kelompok kerajinan yang berada di Samarinda dan Long bagun, Kutai Barat. “Di Samarinda saya sambilmemasarkan produk dari teman-teman di Long Bagun. Banyak juga pembelinya dari warga asingdi Balikpapan,” kata Hangin yang sering diminta mengisi ekstra kurikuler di Sekolah Perancis di Balikpapan itu.
Ia mengaku sangat dibantu PT. Jamsostek (Persero) cabang Samarinda. Awalnya ia hanya mendesain kerajinan secara otodidak. Namun setelah mengikuti berbagai pelatihan mendesain garapan PT. Jamsostek (Persero), ia semakin bisa berinovasi. “Karena dipinjamnkan modal oleh Jamsostek, mau tak mau saya harus memacu diri. Terus berinovasi, meningkatkan kualitas dan desain jadi lebih terarah setelah mengikuti pelatihan,” katanya.
Menurut Hangin, khusus kerajinan berbahan rotan, lebih banyak diproduksi di desa, sebab, letaknay tak jauh dari tempat rotantumbuh. Sementara kerajinan berbahan manik lebih banyak dikerjakan kelompok kerajinan binaannya di Samarinda. “bahan manik-manik kami impor dari Jepang, Australia, dan Malaysia,” bebernya.
Hangin juga sudah beberapa kali diundang ke luar negeri, antara lain ke Jerman, Australia, dan China. Lawatannya ke luar negeri dalam kaitan kerajinan yang ditekuninya, ia memeragakan bagaimana cara menganyam rotan hingga jadi produk menarik, juga merangkai manik-manik menjadi taplak meja dan lain-lain. Hangin juga sering ikut pameran, baik lokal, regional maupun nasional. Dari mengikuti ekspo itu, ia mendapat beragam penghargaan.
Catatan tentang Penghargaan yang pernah diraih oleh CV. Matan, antara lain :
• Seal of Excellence for Handicraft 2007 South East Asia Programme.
• Anyaman terbaik dalam pekan Produksi Budaya Indonesia (PPBI) 2007.