Di tangan Dewi, kepompong ulat sutera menjadi produk aksesoris unik, khas dan berkualitas. Penjualan karya kreatifnya pun mampu meraih omzet Rp.40 juta per bulan.
Siang itu, sekitar delapan perempuan muda tengah asyik bekerja. Di ruangan berkukuran sekitar 2 x 10 meter itu, ada yang sibuk membuat beragam aksesoris, menyambung bahan dasar kepompong, ada pula yang memilah milah bahan. Di ruang pamer, Putu Gede Budi Darma Arimbawa, tampak serius merapikan aneka kerjainan.
Aktivitas inilah yang berlangsung di Cocooncraft pada 27 Agustus 2008. Showroom sekaligus bengkel kreatif itu berada di Jl.Pulau Misol Gg. VIII No.5 Denpasar. Arimbawa beserta istri, Putu Suandewi, telah merintis kepompong ulat sutera itu pertengahan 2006 lalu.
"Awalnya, ketika saya bekerja di hotel, ada tamu berkebangsaan Perancis bernama Julian yang mencari produk kerajinan dari kepompong," Arimbawa bercerita. Kebetulan, lanjut Ari, Putu Suandewi saat kuliah di Yogya Dewi pernah melihat kerajinan dari kepompong. Ia pun meminta bahan baku untuk belajar berkreasi dengan kepompong.
Dewi yang alumni ABA IPK Yogyakarta pun mulai bereksperimen membuat bunga dari kepompong kuning (criculla). Hasilnya kian hari kian bagus dan diminati banyak orang. Dewi pun kian bersemangat untuk terus menghasilkan karya terbaiknya.
Cocooncraft memproduksi aneka aksesoris berupa aneka jepit rambut, tusuk kondo, semanggi, giwang, kalung, cincin, gelang, bros, ikat pinggang. Untuk kerajinan antara lain dompet, figura, album foto, map dan aneka kombinasi pada produk kayu dan aneka kerajinan lainnya.
Pilihan Dewi menekuni kerajinan dari kepompong ternyata tak salah, memasuki 2007 aksesoris dari kepompong benar-benar booming. Ia pun terus berkreasi dengan menciptakan beberapa varian dan desain produk kepompong. Inspirasi dan ide pun terus dikembangkannya guna memberi pilihan pada konsumen. Kini dengan karyawan 15 orang, Cocooncraft menghasilkan lebih dari 50 jenis aksesoris dan kerajinan.
"Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan PT Jasa Raharja yang sejak dua tahun lalu memberi pinjaman modal sebesar Rp.25 juta," kata Arimbawa. Dengan pinjaman ini, Cocooncraft yang memang kekurangan dana terus berkembang dan kini mampu meraih omzet hingga Rp.40 juta per bulan." Apalagi syarat dan cicilan sangat ringan sehingga tidak memberatkan," pugkasnya.